jump to navigation

Berburu Laila 19 September 2007

Posted by Admin FTSI in Umum.
trackback

 Dzikir Ramadhan

Hari ini pagiku terasa segar seperti segarnya kampung halaman yang kurindukan. Langit tiba-tiba bermendung seperti wajah seorang remaja yang sedang resah menanti takdir dari apa yang diusakannya. Cuaca alamku lumayan bersahabat khas suasana bulan puasa di Indonesia, hanya saja suasana yang lain seolah sepi terkikis perbedaan budaya. Ah betapa rindunya aku akan kampung halaman.Terlalu lama rasanya aku diamkan ide segarku dalam tulisan, dan semoga ini menjadi permulaan yang tidak permulaan, sambil menanti laila datang, aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku pada semua orang yang meluangkan waktu untuk bisa berbagi pengetahuan.

Kau bukanlah laila yang ku maksud, tapi selesaikan dulu bacaanmu baru katakan siapa laila yang ku maksud. Laila yang ku maksud adalah laila yang setara dengan 83 tahun 4 bulan, yang menjadi dambaan banyak orang walau tak pernah tahu kapan dia datang dan seperti apa dia. Kau boleh berkata aku gila, asal engkau berkata dalam keadaan waras, sebab jika berkata aku gila sedangkan kau sendiri gila, bukankah jadinya aku yang waras?.

Laila….kata orang kalau kau datang pastilah pagiku tidak bermendung seperti pagi ini, kenapa orang-orang hanya tahu tanda-tanda setelah engkau pergi, setelah engkau hilang? Laila..engkau memang bukan tujuan tapi kau hanyalah jalan untuk tujuan. Laila..antarkan aku pada pagi yang cerah setelah malam yang menenggelamkanku dengan kegelapan. Sadarkan aku akan ketidak-sadaranku pada kegelapan hatiku.

Laila-tul Qadr, beruntunglah orang-orang yang menjadikanmu jalan dan ruang untuk menuju-Nya. Sebuah keberuntungan dibanding 1000 bulan (83 tahun 4 bulan) kalau saja ada orang berumur 98 tahun yang beribadah sejak baligh mungkin baru bisa menyamai.

Ah kau laila…betapa begitu besar imbalan orang yang beruntung dalam dekapanmu, namun kini langit kotaku begitu cerah membiru tanpa awan, adakah kau telah datang tadi malam??ataukah memang birunya langit bukan ukuran bagi aku, dikota tanpa hujan, hanya bermendung kala musim dingin mengambil zaman.

Ah masih ada 29 malam kemungkinan, tak ada yang tahu kapan engkau datang, yang tahu pun tak berani mengatakan. Beruntunglah orang-orang yang tidak tahu dengan segala usaha yang dilakukan.

Alliem

13 September 2007

Awal puasa di ruang ujian.

Review Dari : http://muallimku.multiply.com/

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: