jump to navigation

Keteladanan Seorang Pemimpin 19 September 2007

Posted by Admin FTSI in Nyantri.
trackback

Semoga Allah yang Maha Gagah, yang Maha Perkasa, yang menggenggam langit dan bumi, semoga kita semua tidak terperdaya dengan segala tipu daya yang membuat kita kehilangan kemuliaan dunia dan akhirat.

Saudara yang baik, saat ini negara kita sedang berada di perjalanan menuju perubahan, dimana pemilihan Kepala Daerah di seluruh Indonesia sudah muali berlangsung. Kita senang bahwa kita menginginkan perubahan karena sesuatu yang bernilai, yang dianggap beruntung adalah perubahan sepanjang Khairu min Amsyik atau lebih baik dari hari kemarin. Pemilihan Kepala Daerah yang sedang diselenggarakan akan mengantarkan kita menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Teringat ketika Taufik Ismail membacakan sebuah puisi “Ketika Indonesia dihormati Dunia”, Ketika itu tahun 1955 Indonesia dihormati dunia karena pemilihan pemimpin negara yang diselenggarakan mempesona dunia.Tidak ada satu tetes darah pun yang tertumpah, tidak ada satu mobil pun yang terguling, tidak ada satu rumah pun yang terbakar, tidak ada satu nyawa pun yang melayang. Dunia kagum saat itu, tapi setelah itu pemuda yang santun di rumah, yang kalem di sekolah, ketika ikut kampanye tiba-tiba menjadi beringas, memukul, menumpahkan darah,dan membakar. Hasilnya seperti saat ini, negara menjadi tidak nyaman.

Kalau kita mau merubah, mengapa kita tidak mencontoh perubahan yang terjadi di jaman Nabi Muhammad SAW. Ketika itu jaman jahiliyah, penipuan, kemaksiatan merajalela, anak perempuan dikubur hidup-hidup, dirubah menjadi sebuah peradaban yang mulia. Kita ingin berubah menjadi lebih baik, lingkungan lebih baik, rumah dan kantor menjadi lebih baik. Ternyata,Rasullulah memberikan kunci yang jitu untuk perubahan yang lebih baik, yang bisa dijadikan contoh di negeri ini. “Dan sesungguhnya pada diri Rasul itu ada contoh kebaikan.”(QS.Al-Ahjab; 21).

Dan contoh kebaikan inilah kunci dari perubahan. Siapapun yang ingin melakukan perubahan, kuncinya adalah Keteladanan.Bagaimana mungkin bangsa ini dapat berubah, kalau sulit mencari keteladanan. Oleh karena itu, para peserta kampanye yang ingin berlomba-lomba berkuasa di tiap daerah di negeri ini, kepada siapapun yang berbicara tentang perubahan bangsa, tentang perubahan negeri kita, lewati dulu sebuah pertanyaan “saya memberi keteladanan apa ?”. Sudah banyak yang berteriak untuk mempersatukan bangsa ini. Tapi, bagaimana menjadi teladan ketika dua orang anak saja yang dirumah tidak akur, bahkan pada kabur. Sudah banyak juga yang berteriak untuk memperbaiki ekonomi, sementara berapa banyak tetangga yang bisa bekerja dengan adanya diri kita. Maka, untuk melakukan perubahan kuncinya hanya keteladanan.

Partai ingin perubahan, partai memberi keteladanan apa? Itu kuncinya. Karena itu, sekarang kita lihat sama-sama perilaku para calon pemimpin di daerah. Kita tonton mereka. Kalau dari awal sudah licik, bagaimana bisa mengurus negeri ini dengan baik. Belum menang saja sudah licik, bagaimana nanti kalau berkuasa. Kalau dari awal curang, tidak bisa membangun negeri ini dengankecurangan.

Wahai para calon kepala daerah, berlomba-lombalah dalam memberi keteladanan. Tapi, teladan seperti apa yang dibutuhkan?

Yang pertama adalah teladan dalam keyakinan kapada Allah. Mengapa? Karena kalau orang tidak kuat imannya tidak akan mengabdi kepada Allah tetapi kepada dunia. Teladan disini artinya meyakini diri sebagai hamba Allah, sebagai khalifah yang berkarya yang terbaik, yang bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi makhluk Allah. Kalau pemimpinnya kuat iman maka tidak akan goyah dalam menghadapi hidupnya.

Yang kedua adalah teladan dalam akhlak. Bangsa ini sedang krisis akhlak. Karena politik diurus oleh sebagian orang tidak berakhlak maka jadilah rusak, karena ekonomi dimainkan oleh orang-orang tidak berakhlak maka jadilah rusak, begitu pun budaya. Maka, bangsa ini bangkit kalau bangsa ini memiliki keteladanan akhlak. Ciri khas sederhana akhlak ini adalah respon spontan terhadap kejadian, senang ataupun susah. Orang yang berakhlak baik respon spontannya baik. Orang mulia yang berakhlak baik tidak akan mengeluarkan kata-kata yang hina.

Yang ketiga adalah teladan cinta ilmu. Bangsa ini tidak bisa bangkit kalau pemimpinnya tidak cinta ilmu. Apa cirinya? Seseorang yang cinta ilmu adalah orang yang selalu belajar,menghormati orang-orang berilmu, mendukung pengembangan ilmu, dan mendukung orang-orang untuk berilmu. Dan ciri orang yang berilmu bukan dilihat dari gelarnya. Tapi bagaimana dia dengan ilmunya bermanfaat bagi orang lain dan yang paling utama bermanfaat bagi dirinya sendiri. Semoga para calon pemimpin daerah akan mengedepankan ketauladanan akhlaknya,ketimbang mengedepankan kekuatan pisik, kekuasaan, dan kekayaan. Wallahu a’lam.

Review dari : http://www.cybermq.com

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: