jump to navigation

Renungan Nuzulul Qur’an 16 September 2008

Posted by Admin FTSI in Nyantri.
Tags: ,
trackback

MALAM 17 Ramadhan adalah waktu turunnya Al Quran. Umat Islam seluruh dunia memperingati peristiwa agung itu dengan berbagai cara. Ada yang mengundang mubaligh untuk menguraikan sejarah, fungsi Al Quran dan kelebihannya dari kitab-kitab lain. Ada juga yang bertadarus siang-malam bersama keluarga hingga khatam. Tidak kurang pula yang mengadakan kenduri buka puasa bersama.

Pada zaman ini, kita terkesan kurang membaca Al Quran, meski bulan Ramadhan. Umat sibuk di depan televisi menyimak hiburan tidak Islami. Padahal, ayat pertama yang diwahyukan Allah adalah perintah membaca.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia, yang mengajarkan kamu dengan pena, apa yang belum diketahuinya”.


Itulah
lima ayat pertama yang di wakhyukan Allah kepada Nabi Muhamamad SAW lewat perantaran Jibril, pada malam 17 Ramadhan di Gua Hira.


Kalau kita baca dari ayat ke ayat, kita akan tercengang melihat pesan demi pesan Tuhan kepada hamba-Nya Muhammad dan manusia seluruhnya. Dalam ayat satu misalnya, Allah menyuruh kita membaca.


Iqrak bismi rabbikal ladzi khalaq.

Apa yang harus dibaca oleh Muhammad? Sedangkan wahyu yang diturunkan waktu itu belum tersurat?

Rupanya, baca (iqra) dalam ayat pertama itu bukan hanya membaca yang tersurat, tetapi juga yang tersirat. Muhammad dan umatnya harus membaca kedua-duanya, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Bacalah, bagaimana Tuhan menjadikan manusia dari segumpal darah (alaq). Dari mana alaqah itu datang? Itulah ilmu pengetahuan yang harus digali. Manusia harus menggunakan akal yang sehat untuk mendapatkan jawabannya. Akal itu datang dari otak yang waras, otak itu berpikir. Pikiran yang waras tentu tak terlepas dari bimbingan wahyu Allah.

Makanya, hampir semua penemuan-penemuan ilmu pengetahuan ditemukan oleh sarjana-sarjana muslim abad pertengahan, seperti Ar Radhi, Ibnu Sina, Ibnu Rusy, Ibnu Batutah, Al Baiquni, Ibnu Majid, Ibnu Khaldum, Al Gabah, dan sebagainya. Otak mereka diilhami oleh Al Quranul Karim.

***

Karena perintah-Nya “bacalah” inilah kami terinspirasi membuat sebuah blog yang merupakan media “bacaan” tersirat yang kami harapkan mampu memberikan sebuah manfaat bagi seluruh manusia dan makhluq Allah pada umumnya demi kemaslahatan bersama khususnya dalam upaya mensinergikan pengetahuan teknologi dan pengetahuan keagamaan.

Pada malam 17 Ramadhan ini, kami pun coba ingat kembali “Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq” yang diturunkan di Gua Hira. Kami renungkan, rupanya ada filosofi terlupakan dari perintah “bacalah”. Pertama, setelah kita baca, mari kita kembangkan bersama dengan aksi nyata dalam sebuah kegiatan keilmuan, karena itu kami coba siratkan satu tulisan “Renungan Nuzulul Quran”. Semoga bermamfaat.(red)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: